Postingan

Segera, segera, segera!

 Bersegeralah, Jangan Menunda! Bagikan:WhatsAppTelegramFacebookTwitterEmailShare Hidayatullah.com—Sudah menjadi rahasia umum dalam masalah waktu, masyarakat kita dikenal suka menggunakan sistem “jam karet”. Layaknya sebuah karet, ia akan bisa kita ulur sekehendak kita. Begitu pula halnya dengan jam karet, tidak ada prinsip tepat waktu di dalam penerapannya. Ia selalu molor, molor, dan molor. Sebagai contoh, ketika kita hendak mengadakan rapat ataupun kegiatan sejenisnya yang berkaitan dengan ketepatan waktu, maka setiap kali itu pula pemunduran jadwal dari waktu yang telah disepakati, senantiasa terjadi. Sepakat kumpul jam tujuh, tibanya jam setengah delapan. Berjanji untuk datang jam sepuluh, munculnya malah jam sebelas, begitu seterusnya, dan begitu seterusnya. Dan ‘tradisi’ ini terjadi, bermuara pada karakter masyarakat yang ‘doyan’ menunda-nunda pekerjaan/waktu. Ironinya, kasus tersebut (menunda-nunda) tidak hanya melanda golongan bawah (masyarakat biasa) negeri ini, namun, mer...

Waktu dan Umur

Rentang waktu terkadang membuat kita lupa bahwa kita semakin dewasa Rentang waktu terkadang membuat kita lupa bahwa kita telah melanggar titah Yang Kuasa Rentang waktu terkadang membuat kita sadar bahwa kita hanya manusia yang tak punya apa-apa selain jasad yang tak berguna Rentang waktu terkadang membuat kita sadar bahwa Tuhan tidak melihat harta dan rupa melainkan hati yang ada di dalam dada dan amal jasad yang lata Walau Einstein berkata bahwa rentang waktu itu berbeda tergantung dalam keadaan apa kita berada Namun Tuhan telah berkata, “Hanya Akulah yang tahu umur manusia”. Sekular barat berkata, “Waktu adalah dollar di dalam kantung” Namun Hasan Al-Bana berkata, “Waktu adalah pedang, potong atau terpotong”. Waktu….. Alam terus menari dalam simfoninya Waktu….. Umur manusia didikte olehnya Waktu…..  Setiap detaknya memakukan kita di persimpangan jalan jalan Tuhan atau jalan setan Rentang waktu….. semoga tak melalaikan kita tuk terus berjalan di jalan-Nya #limabelastahunsilam #dua...

*Kata-Kata Bodoh tapi Bijak*

 *Kata-Kata Bodoh tapi Bijak* 1. "Orang bodoh seringkali beralasan sabar terhadap segala sesuatu yang sebenarnya dia mengalah dengan keadaan tanpa pernah berusaha." 2. "Dalam sitausi apa pun, jangan biarkan emosimu mengalahkan kecerdasanmu." 3. "Aku cukup bodoh bukan, menerima luka ini dengan ikhlas." 4. "Aku sadar, aku memang bodoh. Aku masih saja menunggumu dan masih saja berharap kau mencintaiku." 5. "Kadang meski terus terluka, kamu tetap tak ingin melepasnya. Meski terdengar bodoh, kamu masih berharap dia akan berubah." 6. "Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." 7. "Jangan terlalu mengambil hari di depanku. Aku tak bodoh untuk membedakan antara rasa dan risi." 8. "Terkadang membodohi diri sendiri itu mudah. Cukup merindukannya walau tak terbalaskan, cukup bertahan meski dia sudah tak lagi nyaman." 9. "Lawan...

FITNAH ITU LEBIH KEJAM DARIPADA PEMBUNUHAN

 FITNAH ITU LEBIH KEJAM DARIPADA PEMBUNUHAN Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh Seorang murid meminta maaf kepada gurunya yang telah difitnahnya. Mendengar itu Sang guru hanya tersenyum sambil bertanya : “Apa kau serius?”. “Saya serius, Guru", jawab sang Murid. Guru terdiam sejenak, lalu bertanya :  “Apakah kamu punya sebuah kemoceng?”. “Ya Guru, saya punya. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”. “Berjalanlah berkeliling lapangan sambil mencabuti bulu-bulu kemoceng itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingat-ingat perkataan buruk mu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui”. Esoknya, sang murid menemui Guru dengan sebuah kemoceng yang sudah tidak memiliki sehelai bulu pun. “Guru... bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari tiga km sambil mengingat semua perkataan buruk saya tentang Guru. Maafkan saya, Guru....”. Sang Guru terdiam sejenak, lalu berkata : “Kini pulanglah dengan ...

# Menasehati Itu Bukan dengan Menyindir di Publik

Setiap kita butuh nasehat dan saling menasehati. Terkadang kita menyampaikan nasehat dan terkadang kita dinasehati, akan tetapi kita perlu sama-sama ingat kembali tujuan utama menasehati adalah mengkehendaki kebaikan dan memperbaiki yang dinasehati. Sebagaimana dalam hadits, ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟﻨَّﺼِﻴﺤَﺔُ “Agama adalah nasehat” (HR. Muslim). Ibnul Atsir menjelaskan, ﻧَﺼﻴﺤﺔ ﻋﺎﻣّﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ : ﺇﺭﺷﺎﺩُﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﻣﺼﺎﻟِﺤِﻬﻢ “Nasehat bagi kaum muslimin yaitu memberikan petunjuk untuk kemashalatan mereka” [An-Nihayah 5/142] Kita perlu ingat juga adab utama menasehati yaitu hukum asalnya empat mata (sembunyi-sembunyi, bukan di depan publik) serta dengan menggunakan kata-kata yang lembut dan mengena bukan dengan kata-kata kasar dan menyindir Imam Asy-Syafi’i menjelaskan bahwa nasehat di depan publik (tanpa ada udzur yang membolehkan) adalah penghinaan, itu bukan nasehat. Beliau berkata: تعمدني بنصحك في انفرادي** وجنبْني النصيحة في الجماعهْ فإن النصح بين الناس نوع** من التوبيخ لا أرضى استماعهْ وإن خالفتني وعصيت...

Musyabab Lisan

Perbedaan Ahlussunnah dengan Asy'ariyyah dalam perkara iman adalah bahwa Ahlussunnah meyakini iman sebagai ucapan lisan, i'tiqod (keyakinan) dalam hati dan amalan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan berkurang dengan kemaksiatan. Hal ini sesuai dalil-dalil Al-Qur'an was Sunnah serta petunjuk para Salaf. Sedangkan kelompok Asy'ariyyah terpengaruh oleh paham murjiah yaitu menganggap iman cukup dalam hati berupa i'tiqod (keyakinan) semata tidak secara lisan maupun amal perbuatan. Pemahaman ini menyelisihi dalil dan petunjuk para Salaf. Akibat paham Asy'ariyyah tersebut sering kita mendengar ucapan, "yang penting hatinya" saat diimbau berjilbab atau sebaliknya ketika mengucapkan kalimat kufur yang melanggar aqidah seperti mengucapkan salam semua agama. Padahal murka Allah dan amuk alam bisa terjadi lantaran ucapan lisan: تكاد السماوات يتفطرن منه وتنشق الأرض وتخر الجبال هدا أن دعوا للرحمن ولدا "Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan...

Meminta-minta dan Mengemis itu Terlarang

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar   radhiyallahu ‘anhuma , ia berkata bahwa Rasul   shallallahu ‘alaihi wa sallam   bersabda, مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ “ Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya .” (HR. Bukhari, no. 1474; Muslim, no. 1040) Dari Hubsyi bin Junadah, ia berkata bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ “ Barangsiapa meminta-minta padahal dirinya tidaklah fakir, maka ia seakan-akan memakan bara api .” (HR. Ahmad 4: 165. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ إِلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا أَوْ فِي أَم...